Ada sebuah kebijaksanaan dalam kesunyian senja, bahwa matahari pun tahu kapan harus tenggelam untuk mengistirahatkan dunia. Begitu pula seharusnya langkah kita. Selama detak jantung masih menjadi melodi yang mengiringi waktu, tidak ada alasan bagi kita untuk terus menghukum diri dengan beban yang berlebih. Hidup bukanlah sebuah perlombaan tentang siapa yang paling banyak menanggung duka, melainkan tentang siapa yang paling pandai menjaga cahayanya tetap terang.
Masa lalu adalah perpustakaan yang besar, namun kita tidak perlu membaca setiap bukunya setiap hari. Tak perlu membawa semua bab yang membuat mata sembab. Cukup petik setangkai hikmah, satu pelajaran kecil yang membuat fondasi hati menjadi lebih kokoh. Dengan memilah mana yang perlu dibawa dan mana yang harus ditinggalkan di tepian jalan, kita memberikan ruang bagi paru-paru jiwa untuk menghirup udara yang lebih segar.
"Biarkan hati bernapas lebih lega, tanpa terus-menerus menoleh ke belakang dengan leher yang kaku karena penyesalan."
Langkah yang paling indah adalah langkah yang jujur. Langkah yang mengakui bahwa kita pernah jatuh, namun tidak memilih untuk menetap di tanah. Di dalam langkah yang ringan itu, tersimpan sebuah rahasia besar tentang kehidupan bahwa, hidup ini tidak selalu meminta ketangguhan yang keras bak baja. Terkadang, hidup hanya ingin dijalani dengan cara yang lebih lembut.
Seperti air yang mengalir mengitari batu, bukan yang berusaha menghancurkannya, kita belajar bahwa kelembutan adalah kekuatan yang sebenarnya. Hidup ingin kita peluk dengan jemari yang santun, bukan dengan kepalan tangan yang tegang. Karena pada akhirnya, perjalanan ini akan terasa jauh lebih bermakna saat kita mampu tersenyum pada apa yang ada di depan mata, sambil membisikkan rasa syukur pada angin yang lewat.
Padang, 4 Januari 2026
By: Andarizal
