Di sudut-sudut Kota Padang dan hamparan Sumatera Barat, sisa-sisa lumpur banjir bandang penghujung 2025 belum sepenuhnya kering dari dinding rumah warga. Jembatan yang menjadi urat nadi ekonomi masih banyak yang menganga, menyisakan raungan mesin alat berat yang bekerja tertatih-tatih di bawah keterbatasan anggaran. Namun, di tengah rintihan warga yang kehilangan tempat tinggal dan lapangan kerja, sebuah kebisingan lain justru mulai memekakkan telinga, deru mesin politik.
Sangat ironis melihat bagaimana isu suksesi kekuasaan siapa yang akan menjadi "orang nomor satu" di Sumbar maupun di Padang muncul ke permukaan saat rakyatnya masih sibuk menambal atap yang bocor. Publik seolah dipaksa menyaksikan sebuah drama di mana ambisi pribadi tumbuh lebih subur daripada progres pembangunan infrastruktur yang hancur.
Ketika seorang pemimpin mulai melirik kursi yang lebih tinggi sebelum menuntaskan amanah yang sedang dipangkunya, ada sebuah pesan tersirat yang sangat menyakitkan bagi warga bahwa, penderitaan rakyat hanyalah batu loncatan. Masyarakat Sumatera Barat tidak butuh janji-janji manis tentang "masa depan gemilang" jika masa kini mereka masih dipenuhi ketidakpastian. Bagaimana mungkin seorang tokoh merasa pantas memimpin wilayah yang lebih luas, jika di wilayah yang ia pimpin saat ini, rakyatnya masih bertaruh nyawa menyeberangi sungai karena jembatan yang putus belum usai diperbaiki?
Lapangan kerja yang hilang dan kesejahteraan yang merosot pasca-bencana adalah realita pahit, bukan komoditas untuk dipoles dalam visi-misi pencitraan. Pemimpin yang memiliki nurani seharusnya tidak punya waktu untuk memikirkan survei elektabilitas saat indeks kemiskinan warga justru meningkat akibat bencana.
Publik Sumbar, yang dikenal cerdas dan religius, kini tengah melakukan audit sosial secara mandiri. Mereka tidak lagi bisa disuap dengan retorika "demi rakyat" jika kenyataannya kebijakan yang diambil tidak berdampak langsung pada pemulihan hidup mereka.
Jika kursi kekuasaan dianggap lebih berharga daripada nasib warga yang hanyut terbawa derasnya air sungai, maka sudah saatnya masyarakat menyatakan sikap. Kita membutuhkan sosok "problem solver", bukan "image maker".
Kepada para pemimpin yang sedang berhasrat, tuntaskan pekerjaan rumah Anda. Sembuhkan luka Sumatera Barat, bangun kembali jembatan yang putus, dan ciptakan lapangan kerja yang nyata. Jika nurani itu masih ada, biarlah kinerja yang berbicara, bukan ambisi yang berteriak di tengah duka.
Padang, 24 Februari 2026
Oleh: Andarizal
