Di tengah gempuran neobank dan dominasi aplikasi perbankan raksasa nasional, Bank Nagari meluncurkan Ollin sebagai jawaban atas tuntutan zaman. Namun, bagi bank kebanggaan masyarakat Sumatera Barat ini, Ollin bukan sekadar pembaruan aplikasi mobile banking. Ia adalah simbol pertaruhan, apakah Bank Nagari mampu bertransformasi menjadi bank digital yang kompetitif, atau justru tergilas oleh ekspektasi nasabah yang kian tinggi?
Banyak bank daerah terjebak dalam jebakan "digitalisasi kosmetik" meluncurkan aplikasi hanya agar terlihat modern, namun tanpa didukung ekosistem yang mumpuni. Bagi Bank Nagari, tantangannya adalah memastikan Ollin bukan sekadar ganti nama dari layanan sebelumnya.
Nasabah saat ini tidak lagi hanya menuntut fitur transfer atau pembayaran tagihan. Mereka menginginkan kecepatan pembukaan rekening secara mandiri (digital onboarding), akses kredit instan, hingga integrasi dengan berbagai platform e-commerce dan dompet digital. Di sinilah letak pertaruhannya, mampukah infrastruktur TI Bank Nagari mengimbangi fleksibilitas bank-bank digital murni yang tidak terbebani oleh birokrasi perbankan tradisional?
Kompetisi di ranah Minang kini tidak lagi terbatas pada sesama bank fisik. Anak muda di pelosok nagari kini lebih akrab dengan fintech atau bank digital Jakarta karena kemudahan verifikasi dan promo yang masif.
Bank Nagari memiliki satu keunggulan yang tidak dimiliki pesaing nasional, kedekatan emosional dan penguasaan medan. Namun, teknologi bersifat agnostik terhadap loyalitas daerah. Jika aplikasi sering down, antarmuka (UI) yang kaku, atau proses verifikasi yang berbelit, maka narasi "kebanggaan daerah" akan kalah telak oleh "kenyamanan pengguna". Ollin harus mampu membuktikan bahwa produk lokal bisa memberikan pengalaman kelas dunia.
Membangun teknologi yang tangguh membutuhkan biaya yang sangat besar (CapEx). Bagi bank daerah, ini adalah tantangan dilematis. Di satu sisi, investasi besar pada teknologi dapat menggerus dividen yang diharapkan pemerintah daerah sebagai pemegang saham. Di sisi lain, menahan investasi teknologi adalah "bunuh diri" jangka panjang.
Kritik utamanya adalah, sejauh mana manajemen mampu meyakinkan para pemegang saham (Kepala Daerah) bahwa penguatan teknologi adalah prioritas yang lebih mendesak daripada sekadar mengejar laba jangka pendek?
Ollin adalah langkah maju yang patut diapresiasi, namun ia hanyalah awal dari lari maraton yang panjang. Keberhasilan Bank Nagari bersaing bukan hanya diukur dari berapa banyak orang mengunduh Ollin, melainkan seberapa besar aplikasi ini mampu menggerakkan ekonomi riil di Sumatera Barat.
Jika Bank Nagari gagal memenangkan pertaruhan teknologi ini, mereka berisiko hanya menjadi "bank penyalur gaji" bagi ASN, sementara transaksi ekonomi produktif masyarakatnya berpindah ke tangan raksasa digital luar daerah. Waktunya bagi Bank Nagari untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar pemain lokal, tapi pemain digital yang vokal.
Padang, 14 Januari 2026
Oleh: Andarizal
